Selasa, 04 September 2012

Sh*t Happens

Gebetan yang awalnya sangat bersemangat PDKT dan mengajak kencan, tiba-tiba gak ada angin, gak ada hujan menghilang bagi ditelan bumi padahal kita terlanjur terbiasa dengan perhatiannya. Tak apalah, the next nice guy please stand up!!!

Seorang cewek modis dengan dandanan bak supermodel terlihat turun dari mobil mewahnya, dengan langkah anggun (karena merasa di perhatikan oleh segerombolan cowok keren) dia memasuki area mall yang megah, tiba-tiba poww... hak sepatu cantiknya patah, dengan muka merah menahan malu bercampur kesal dia melangkah terseret-seret menjauh dari tatapan orang di sekitarnya.

Payday!!! dengan semangat 45 menuju Supermarket untuk berbelanja bulanan. Kereta berisi segala rupa kebutuhan selama sebulan diarahkan menuju kasir tapi apa daya, dompet beserta gaji sebulan lenyap tak berbekas. Dicopetkah?? ketinggalan entah di manakah?? Terpaksa harus berhemat sebulan ini, dengan senyum getir dia meninggalkan supermarket dengan langkah gontai.

yeah, shit happens every time, every day to everyone. Well, c'est la vie. That's life...
When it happens to you, what would you do? Apakah kau akan merutuki nasib dan menyumpahi takdir yang kau rasa kejam?? Atau kau move on meskipun terasa getir?? Life can be a tragedy or comedy, it depends on how you deal it. The thing is, shit happens when you least expect it tapi bukan berarti kau harus bersikap melodramatis seolah-olah hidupmu berakhir saat hak Manolo Blahnik-mu patah atau ketika dompetmu hilang. Chances are, maybe there's another people who has to deal with the worst shit right at the moment you broke your heel or you lost your wallet. So keep on going because life is always beautiful as it is.

 

Senin, 23 April 2012

Negara Para Plagiat



Belum lama ini berita tentang lagu yang berjudul 'iwak peyet" ramai menghiasi segmen-segmen gosip baik di media cetak maupun elektronik, lagu tersebut dikatakan menjiplak yel-yel supporter dari salah satu klub di Yunani dan di Jawa Timur dan band cock sparrel. Sebenarnya 'iwak penyet' bukan lagu pertama yang (ketahuan?) menjiplak, sebelummya sudah banyak lagu dari musisi Indonesia yang mirip (baik disengaja maupun tidak) dengan lagu mancanegara. Saya pernah secara tidak sengaja mendengar lagu duet dari salah satu band pendatang dengan penyanyi cewek pendatang baru yang sejak intro awal sampai penghabisan, lagunya terdengar seperti "two is better than one" yang dinyanyikan oleh Boyz like Girls dan Taylor Swift. Tapi sepertinya yang menyadari kemiripan kedua lagu tersebut hanya segelintir orang sehingga beritanya tidak ramai seperti lagu "iwak peyet". D'massive, Dewa, Vierra, Mulan, Joeniar Arif bahkan idola para ABG Smash pun tidak luput dari isu plagiasme.

Parahnya lagi, beberapa musisi di negara ini malah berkilah jika musik mereka dipengaruhi oleh atau influenced by those particular musician. Okay, yang plagiat tidak selamanya musisi Indonesia, bahkan ada beberapa karya anak bangsa yang dijiplak musisi luar salah satunya adalah lagu peterpan yang dijiplak oleh salah satu penyanyi dari India. 

Plagiat tidak hanya terjadi di dunia musik saja, tapi juga di industri film/sinetron. Beberapa jam yang lalu, saya terpaksa menonton FTV yang berjudul "proposal cinta blahblahblah" yang 101% menjiplak cerita dari film "the Proposal" yang dibintangi oleh Sandra Bullock dan Ryan Reynolds. Tidak hanya dari segi cerita, dialog-dialognya pun terkesan seperti terjemahan dari dialog-dialog dari "the Proposal". Scene yang tidak dijiplak hanya adegan handuk jatuh a la Sandra Bullock dan scene ciuman pada adegan penutup, selebihnya sama persis.

Sinetron di atas hanya segelintir sinetron yang menjiplak film Hollywood, saya yakin masih banyak hasil plagiat yang belum saya tonton dikarenakan saya hampir tidak pernah menonton tayangan lokal (tanpa bermaksud menjadi westomania).

Mungkin banyak yang tidak memahami perbedaaan antara plagiarisme dan pengaruh (influence), beberapa musisi luar pun banyak yang mencomot lagu dari musisi idola mereka seperti misalnya lagu On the Floor-mya JLo, musik lambada sangat jelas terdengar di bagian reff, penyanyi RnB pendatang baru, Mohomba yang terinspirasi dengan lagu Zombie milik the cranberries, judul lagunya pun diberi nama in your head. Evanesce yang adalah penggemar berat Nirvana, pada album pertamanya pun banyak terinspirasi dengan beat-beat grunger a la Nirvana. Eminem pun terinspirasi dari lagu anak-anak yang berjudul "rock a bye baby" untuk lagu "Mockingbird"nya. Inspirasi atau pengaruh musisi-musisi ini tidak tergolong plagiat karena mereka secara keseluruhan karya mereka berbeda dengan musisi aslinya, bahkan bagian yang dicomot seperti dalam lagu JLo pun dibikin atas seijin penciptanya sehingga tidak melanggar hak cipta.

Terlepas dari kasus tersebut, musik dan film Indonesia sebenarnya cukup bisa diperhitungkan. Gigi, maliq and D'essential, Nidji, Rama Satria, Trees and the Wild dan beberapa nama lain pantas diacungi jempol untuk keunikan dan originalitas karya mereka. 
Untuk industri film sendiri, setelah diputar di Toronto International Film festival, film the Raid mampu bertahan di top 20 box office setelah 4 minggu pemutaran, cukup membanggakan bukan? Ini adalah contoh bahwa Indonesia mampu berkarya tanpa plagiasi.

Kamis, 22 Maret 2012

si Cantik Siti (gadis cilik penjual bakso)

Tulisan dibawah ini sy copy dr kompasiana.
Semoga saja, banyak yg tergerak hatinya untuk membantu. Bukankah mereka memiliki hak atas sebagian harta kita.
Jikapun tidak bisa menyumbang dalam bentuk materi, sekiranya tulisan tentang Siti, penjual bakso berumur 7 tahun yang telah yatim ini dapat tersebar luas.

Siti Bocah Yatim Tangguh: Jualan Bakso dengan Upah Rp. 2000,- Sehari
Oleh: Ira Oemar | 07 March 2012 | 10:47 WIB

Sore kemarin – Selasa, 06 Maret 2012 – saya pulang kantor rada “tenggo”, jadi sampai di rumah jam 17.30-an, saya sempat nonton acara “Orang-Orang Pinggiran” di Trans7. Dada saya sesak menyaksikannya, air mata saya meleleh tanpa bisa ditahan, tak mampu berkata-kata. Siti, seorang bocah yatim yang ditinggal mati ayahnya sejak usia 2 tahun. Kini Siti berumur 7 tahun. Sehari-hari sepulang sekolah Siti masih harus berkeliling kampung menjajakan bakso. Karena ia masih anak-anak, tentu belum bisa mendorong rombong bakso. Jadi bakso dan kuahnya dimasukkan dalam termos nasi yang sebenarnya terlalu besar untuk anak seusianya. Termos seukuran itu berisi kuah tentu sangat berat.
Tangan kanan menenteng termos, tangan kiri menenteng ember plastik hitam berisi mangkok-mangkok, sendok kuah, dan peralatan lain. Dengan terseok-seok menenteng beban seberat itu, Siti harus berjalan keluar masuk kampung, terkadang jalanannya menanjak naik. Kalau ada pembeli, Siti akan meracik baksonya di mangkok yang diletakkan di lantai. Maklum ia tak punya meja. Terkadang  jika ada anak yang membeli baksonya, Siti ingin bisa ikut mencicipi. Tapi ia terpaksa hanya menelan ludah, menahan keinginan itu. Setelah 4 jam berkeliling, ia mendapat upah 2000 perak saja! Kalau baksonya tak habis, upahnya hanya Rp. 1000,- saja. Lembaran seribuan lusuh berkali-kali digulung-gulungnya.

Sampai di rumah, Siti tak mendapati siapapun. Ibunya jadi buruh mencangkul lumpur di sawah milik orang lain. Tak setiap hari ia mendapat upah uang tunai. Terkadang ia hanya dijanjikan jika kelak panenan berhasil ia akan mendapatkan bagi hasilnya. Setiap hari kaki Ibunda Siti berlumur lumpur sampai setinggi paha. Ia hanya bisa berharap kelak panenan benar-benar berhasil agar bisa mendapat bayaran.
Hari itu Siti ingin bisa makan kangkung. Ia pergi ke rumah tetangganya, mengetuk pintu dan meminta ijin agar boleh mengambil kangkung. Meski sebenarnya Siti bisa saja langsung memetiknya, tapi ia selalu ingat pesan Ibunya untuk selalu minta ijin dulu pada pemiliknya. Setelah diijinkan, Siti langsung berkubang di empang untuk memetik kangkung, sebatas kebutuhannya bersama Ibunya. Petang hari Ibunya pulang. Siti menyerahkan 2000 perak yang didapatnya. Ia bangga bisa membantu Ibunya. Lalu Ibunya memasak kangkung hanya dengan garam. Berdua mereka makan di atas piring seng tua, sepiring nasi tak penuh sepiring, dimakan berdua hanya dengan kangkung dan garam. Bahkan ikan asin pun tak terbeli, kata Ibunda Siti.

Bayangkan, anak sekecil itu, pulang sekolah menenteng beban berat keliling kampung, tiba di rumah tak ada makanan. Kondisi rumahnya pun hanya sepetak ruangan berdinding kayu lapuk, atapnya bocor sana-sini. Sama sekali tak layak disebut rumah. Dengan kondisi kelelahan, dia kesepian sendiri menunggu Ibunya pulang hingga petang hari.
Sering Siti mengatakan dirinya kangen ayahnya. Ketika anak-anak lain di kampung mendapat kiriman uang dari ayah mereka yang bekerja di kota, Siti suka bertanya kapan ia dapat kiriman. Tapi kini Siti sudah paham bahwa ayahnya sudah wafat. Ia sering mengajak Ibunya ke makam ayahnya, berdoa disana. Makam ayahnya tak bernisan, tak ada uang pembeli nisan. Hanya sebatang kelapa penanda itu makam ayah Siti. Dengan rajin Siti menyapu sampah yang nyaris menutupi makam ayahnya. Disanalah Siti bersama Ibunya sering menangis sembari memanjatkan doa. Dalam doanya Siti selalu memohon agar dberi kesehatan supaya bisa tetap sekolah dan mengaji. Keinginan Siti sederhana saja : bisa beli sepatu dan tas untuk dipakai sekolah sebab miliknya sudah rusak.

Kepikiran dengan kondisi Siti, dini hari terbangun dari tidur saya buka internet dan search situs Trans7 khususnya acara Orang-Orang Pinggiran. Akhirnya saya dapatkan alamat Siti di Kampung Cipendeuy, Desa Cibereum, Cilangkahan, Banten.
Usai sholat Subuh saya hubungi contact person Orang-Orang Pinggiran, meski agak sulit bisa tersambung. Beliau tinggal sekitar 50 km jauhnya dari kampung Siti. Dialah yang menghubungi Trans7 agar mengangkat kisah hidup Siti di acara OOP. Menurut keterangannya, keluarga itu memang sangat miskin, Ibunda Siti tak punya KTP. Pantas saja dia tak terjangkau bantuan resmi Pemerintah yang selalu mengedepankan persyaratan legalitas formal ketimbang fakta kemiskinan itu sendiri. Dia bersedia menjemput saya di Malingping, lalu bersama-sama menuju rumah Siti, jika kita mau memberikan bantuan. Dia juga  berpesan jangan bawa mobil sedan sebab tak bakal bisa masuk dengan medan jalan yang berat.
Saya pun lalu menghubungi Rumah Zakat kota Cilegon. Saya meminta pihak Rumah Zakat sebagai aksi “tanggap darurat” agar bisa menyalurkan kornet Super Qurban agar Siti dan Ibunya bisa makan daging, setidaknya menyelamatkan mereka dari ancaman gizi buruk. Dari obrolan saya dengan Pengurus Rumah Zakat, saya sampaikan keinginan saya untuk memberi Siti dan Ibunya “kail”. Memberi “ikan” untuk tahap awal boleh-boleh saja, tapi memberdayakan Ibunda Siti agar bisa mandiri secara ekonomi tentunya akan lebih bermanfaat untuk jangka panjang. Saya berpikir alangkah baiknya memberi modal pada Ibunda Siti untuk berjualan makanan dan buka warung bakso, agar kedua ibu dan anak itu tidak terpisah seharian. Siti juga tak perlu berlelah-lelah seharian, dia bisa bantu Ibunya berjualan sambil belajar.

Mengingat untuk memberi “kail” tentu butuh dana tak sedikit, pagi ini saya menulis kisah Siti dan memforward ke grup-grup BBM yang ada di kontak BB saya. Juga melalui Facebook. Alhamdulillah sudah ada beberapa respon positif dari beberapa teman saya. Bahkan ada yang sudah tak sabar ingin segera diajak ke Malimping untuk menemui Siti dan memeluknya. Bukan hanya bantuan berupa uang yang saya kumpulkan, tapi jika ada teman-teman yang punya putri berusia 7-8 tahun, biasanya bajunya cepat sesak meski masih bagus, alangkah bermanfaat kalau diberikan pada Siti.
Adapula teman yang menawarkan jadi orang tua asuh Siti dan mengajak Siti dan Ibunya tinggal di rumahnya. Semua itu akan saya sampaikan kepada Pak Tono dan Ibunda Siti kalau saya bertemu nanti. Saya menulis artikel ini bukan ingin menjadikan Siti seperti Darsem, TKW yang jadi milyarder mendadak dan kemudian bermewah-mewah dengan uang sumbangan donatur pemirsa TV sehingga pemirsa akhirnya mensomasi Darsem. Jika permasalahan Siti telah teratasi kelak, uang yang terkumpul akan saya minta kepada Rumah Zakat untuk disalurkan kepada Siti-Siti lain yang saya yakin jumlahnya ada beberapa di sekitar kampung Siti.
Mengetuk hati penguasa formal, mungkin sudah tak banyak membantu. Saya menulis shout kepada Ibu Atut sebagai “Ratu” penguasa Banten ketika kejadian jembatan ala Indiana Jones terekspose, tapi toh tak ada respon. Di media massa juga tak ada tanggapan dari Gubernur Banten meski  kisah itu sudah masuk pemberitaan media massa internasional. Tapi dengan melalui grup BBM, Facebook dan Kompasiana, saya yakin masih ada orang-rang yang terketuk hatinya untuk berbagi dan menolong. Berikut saya tampilkan foto-foto Siti yang saya ambil dari FB Orang-Orang Pinggiran. Semoga menyentuh hati nurani kita semua.

Sumber foto :
http://www.facebook.com/pages/ORANG-PINGGIRAN-TRANS7/224861154196102?sk=wall

Dear pembaca, kami telah melakukan kunjungan ke

Minggu, 18 Maret 2012

My Bluesman Baby

 

First time i saw you playing your guitar,
I found my self breathlessly fall
You just knocked me down,
Right off of my feet
The way you make sound,'
The way you sing the lyrics.
You hypnotized me with the melody,
When you play that part of the sound
I just wanna keep the legacy
For all the feeling that perfectly bound
The song is such the depressed mood
 But to my ear, you always taste good



Minggu, 04 Maret 2012

Haters, Y U NO STFU

Baru-baru ini sya terlibat "twitwar" dengan salah satu mantan follower saya, sebenarnya saya belum pernah ketemu secara langsung dengan orang itu tetapi kebetulan dia adik salah satu teman saya.
Tanpa bermaksud curhat, saya hanya ingin menyampaikan versi dari saya tentang apa yang terjadi.
And the true story goes like this:

Suatu ketika saya men-tweet yang isinya kurang lebih menyindir seorang teman yang entah kenapa mendadak menjadi sombong dan tiba-tiba memutus tali silaturahmi begitu saja.
Entah apa maksudnya si adik teman saya ini - yang sama sekali tidak tau apa-apa, dan saya yakin tidak kenal dengan teman yang saya maksud - membalas tweet saya dengan hash tag #gagalPDKT. Sebenarnya si adik teman saya ini sudah sangat sering membalas atau me-mention saya dengan tweet becanda, yang kadang2 juga sudah keterlaluan, tapi so far saya masih cuek saja.Tapi kali ini, saya anggap si adik teman saya ini sudah kelewat batas. Kalau cuma sekedar minta kaos, minta tiket dan lain sebagainya sih tidak masalah, tapi jika sudah mulai mencampuri urusan pribadi saya, bitch please... Y U NO STFU?!?

Singkat kata, akhirnya saya unfollow si adik teman ini, and you know what? dia malah misuh-misuh tidak jelas. Well, thank you karena sudah menjuluki saya "anak gaul Jakarta" yes I am, so??? blahblahblah.... I don't give a damn.

Well, jika dibilang gila, saya juga bisa becanda gila-gilaan, tapi jika sudah menyangkut social media yang isinya bisa dibaca seluruh dunia, saya memilih untuk menggunakan hak posting status ataupun tweet yang umum-umum saja, use the social media wisely Terlebih lagi jika anda tidak terlalu kenal dengan follower anda. Tweet/statusmu, harimau-mu, suatu ketika apa yang kau tulis bisa jadi bumerang.

Ada satu kasus lagi, tapi yang ini tidak hanya berkaitan dengan saya tapi juga dengan seluruh, well, warga. Jadi si oknum ini, selalu mau tahu urusan orang dan selalu mengomentari orang. For example, jika saya menggunakan warna yang sedikit berbeda dari biasanya maka si oknum akan berkomentar, atau paling tidak bertanya ada apakah gerangan sehingga saya berganti warna. Annoying, though.
seringkali, jika ada yang datang telat dikit atau tidak masuk, maka dengan suara lantang dia membuat pengumuman tentang si anu yang-datang-telat atau si itu yang-tidak-masuk.
Mungkin si oknum merasa dia yang paling sempurna, karena dia cerdas, dan dia berpakaian sesuai dengan kaidah islam yang berlaku jadi mungkin dia merasa berhak untuk mendiskreditkan orang lain.

You have to walk in my shoes to get to really know who I am, stop judging me, stop stereotyping me. You don't know me, bitch please...who gives you the right to judge anyway.
And yeah, I'm too fabulous to deal with that crap, so I unfollow you. I have the right to choose whom I want to be with. So, Y U NO STFU....